Kali ini perjalanan 'wisata kuliner malam' kami---afdolnya ngopi sambil diskusi panjang---kali ini menemukan suasana lain. "Bagaimana kalau kita menikmati hangatnya jahe merah?", ujar seorang teman, yang kelihatannya sudah amat mahfum bahwa jahe bisa memberikan kehangatan di udara malam terbuka seperti ini. Setuju. Saya kira itulah pengambilan keputusan yang tergolong cepat dan tidak bertele-tele, dan.....tidak diinterupsi!
Tepian Kapuas adalah pilihan yang sangat tepat. Suasananya yang sangat familiar, di sudut kanan dari arah pintu keluar ke bagian terrace Hotel Grand Kartika terlihat aktivitas KM Merawan III yang melayarkan masyarakat dari Pontianak Kota dan Pontianak Utara. Di 'arah pukul sembilan' terlihat lampu-lampu kapal barang yang melempar sauh di tengah sungai Kapuas. Kadang terlihat lalu-lalang "Kapal Bandong Wisata" dimana kita dapat menyaksikan bantaran sungai Kapuas dari tempat keberangkatannya di "Cafe Serasan" menuju ke arah pertigaan sungai Kapuas Besar - Kapuas Kecil - Landak, lalu berputar menuju kawasan tepian kompleks Tugu Khatulistiwa. Sepuluh menit berselang, Minuman Jahe Hangat pun datang, ditemani dengan pisang goreng srikaya dan kacang goreng. Nikmat....
Diskusi pun mengalir lancar dari masalah Pilkada Kota Pontianak, Pencalegan Pemilu 2009, sampai kepada prediksi SOPD pemerintah propinsi Kalbar yang sedang di'timang-timang' oleh gubernur. Yang hadir malam itu, memang beragam. Ada politisi dari berbagai partai, tentulah didominasi oleh PAN, selain PBB dan PPD. Ada juga akademisi, dan Wiraswasta. Tamu-tamu yang hadir---tentunya dengan aktivitas masing-masing---ternyata ada juga pengurus PG, dan di meja lain beberapa petinggi PPP. Ah, hidup ini jika tidak terlalu dibikin rewel dan ruwet, memang layak dinikmati. Ibadah taraweh tuntas, ngalor-ngidulpun retas.....
Tampilkan postingan dengan label ngopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngopi. Tampilkan semua postingan
September 17, 2008
Jahe Hangat Tepian Kapuas
Kali ini perjalanan 'wisata kuliner malam' kami---afdolnya ngopi sambil diskusi panjang---kali ini menemukan suasana lain. "Bagaimana kalau kita menikmati hangatnya jahe merah?", ujar seorang teman, yang kelihatannya sudah amat mahfum bahwa jahe bisa memberikan kehangatan di udara malam terbuka seperti ini. Setuju. Saya kira itulah pengambilan keputusan yang tergolong cepat dan tidak bertele-tele, dan.....tidak diinterupsi!
Tepian Kapuas adalah pilihan yang sangat tepat. Suasananya yang sangat familiar, di sudut kanan dari arah pintu keluar ke bagian terrace Hotel Grand Kartika terlihat aktivitas KM Merawan III yang melayarkan masyarakat dari Pontianak Kota dan Pontianak Utara. Di 'arah pukul sembilan' terlihat lampu-lampu kapal barang yang melempar sauh di tengah sungai Kapuas. Kadang terlihat lalu-lalang "Kapal Bandong Wisata" dimana kita dapat menyaksikan bantaran sungai Kapuas dari tempat keberangkatannya di "Cafe Serasan" menuju ke arah pertigaan sungai Kapuas Besar - Kapuas Kecil - Landak, lalu berputar menuju kawasan tepian kompleks Tugu Khatulistiwa. Sepuluh menit berselang, Minuman Jahe Hangat pun datang, ditemani dengan pisang goreng srikaya dan kacang goreng. Nikmat....
Diskusi pun mengalir lancar dari masalah Pilkada Kota Pontianak, Pencalegan Pemilu 2009, sampai kepada prediksi SOPD pemerintah propinsi Kalbar yang sedang di'timang-timang' oleh gubernur. Yang hadir malam itu, memang beragam. Ada politisi dari berbagai partai, tentulah didominasi oleh PAN, selain PBB dan PPD. Ada juga akademisi, dan Wiraswasta. Tamu-tamu yang hadir---tentunya dengan aktivitas masing-masing---ternyata ada juga pengurus PG, dan di meja lain beberapa petinggi PPP. Ah, hidup ini jika tidak terlalu dibikin rewel dan ruwet, memang layak dinikmati. Ibadah taraweh tuntas, ngalor-ngidulpun retas.....
September 12, 2008
A Passion of Coffee
CERITANYA, saya agak tergelitik dengan beberapa teman ngopi yang agak 'protes' dengan rasa kopi yang disajikan di kedai kopi yang beberapa malam selepas taraweh yang kami datangi. "Koq, rasanya tidak seperti yang tempat Anam, ya....", celetuk Mas Herry yang malam itu cuma bercelana pendek dan berkaos putih simple. Sepulang ngopi, saya membongkar-bongkar koleksi majalah saya, dan---alhamdulillah---sebuah majalah unik yang mengupas habis soal kopi, dari asal muasalnya sampai kepada bagaimana menyajikan kopi agar terasa nikmat ditulis dan disajikan lengkap di majalah itu. Judulnya "A Passion of Coffee". Selamat membacanya di Pustaka Saya yang lain. Selamat ngopi, sobat.....
September 03, 2008
Ngopi,Selepas Taraweh
AKHIRNYA Ramadhan pun tiba. Datang, disambut dengan segenap sukacitanya oleh hampir seluruh umat muslim di Indonesia, tak ketinggalan di Kota Pontianak. Apapun alasannya, dan darimanapun sudut pandang suka citanya. Dari sudut pandang anak-anak, inilah waktunya menagih janji para orang tua pada hari terakhir bulan Syawal tahun yang lewat. Janji bahwa Syawal mendatang akan disiapkan empat stel pakaian---baju, celana, plus dalaman---baru lengkap dengan ikat pinggang dan sepatu yang anyar juga. Bagi para remaja, terutama yang ramadhan lalu urung mendapatkan gebetan, artinya selain kewajiban taraweh dan shalat shubuh di mesjid, ada 'tekad lama' dengan strategi baru untuk mendapat gebetan. Dan, tak boleh meleset lagi, agar tidak jomblo waktu Hari Raya Idul Fitri. Bagi para ibu, inilah saatnya mulai mempersiapkan pendemonstrasian kue dengan resep paling baru, mencoba baju muslimah mode uptodate, serta mulai membayang-bayangkan bagaimana rumah kediaman dihiasi dengan model gordijn teranyar dengan warna-warna kinclong yang menawan. Bagaimana dengan bapak-bapaknya?
PARA BAPAK yang selama ini senantiasa menghiasi waktunya---paling tidak---sekali dalam sehari merasakan nikmatnya kopi dan familiarnya suasana di kedai-kedai kopi, tentunya masih dapat melakukan kegiatan tersebut. Selepas taraweh, kedai-kedai kopi di sepanjang jalan kawasan perdangangan terpadat di kota Pontianak senantiasa 'membujuk rayu' para bapak dengan aroma kopi Pontianak-nya yang khas. Yang perlu diingat, jangan sekali-kali bermain api dengan mencoba terbujuk dengan 'rayuan gombal' setan kopi di siang hari, sehingga mengorban harkat dan martabatnya untuk melepaskan 'syahwat ngopi' walaupun mesti menampakkan kaki-kaki bersepatu di balik tirai. Ingat, kalau dirazia, maka sampai ramadhan tahun depanpun kawan-kawan tetap ingat siapa yang pernah ketangkap basah ngopi di bulan puasa. WASPADALAH!
Langganan:
Postingan (Atom)