April 09, 2009
Oktober 03, 2008
Masihkah Kita.....
Apakah engkau merasa bersyukur telah melepas masa lapar
dan dahaga dengan segala ?
Syukurlah, karena kita masih punya segala dan apa-apa
Apakah engkau pernah terfikir untuk menyambut idul fitri
dan hari kemenangan tanpa segala?
Syukurlah, karena masih banyak orang tanpa segala, dan tak punya apapun!
Kefitrian dan Kesucian, sayangnya, telah terusik
oleh keserbaan dan keanekaan yang begitu menggempita
sehingga, astaghfirullah, tanpa sadar
Kita telah mencederai perasaan mereka yang melepas masa
berlapar dan berdahaga puasa, tanpa mereka mampu terfikir
bahkan hanya mimpi saja tak sanggup, punya :
pun sehelai baju koko baru,
pun sebungkus kecil nastar,
pun semangkuk sayur lodeh,
pun sekaleng minuman berkarbonat,
pun sebidang dinding rumah bercat kapur baru,
pun selembar karpet plastik menutupi lubang pada lantai,
pun sehelai princess-style buat si bungsu,
pun……
pun……
Ya, Allah, Ya, Rabb
Mereka yang cuma punya sebuah senyum getir,
sembari menulisi “Selamat Iedul Fitri” dengan tangan gemetar
karena tetap lapar,
Sebab selepas berbuka dengan air putih, belum lagi
ada yang mengganjal perut yang melompong-kosong,
Mereka yang tersenyum getir, rasanya
lebih pantas menikmati lebaran ini karena penderitaan yang
jauh berkepanjangan dan tak habis-habisnya……
Selamat iedul fitri,
penuhi dengan semangat berbagi, kebersamaan
dan kesederhanaan
September 27, 2008
Serasan Cafe
Entah kenapa kemaren itu saya benar-benar kepingin mencari suasana lain dalam melaksanakan berbuka puasa. Setelah menimbang-nimbang dan 'belajar' dari pengalaman serta mendengar cerita dari mulut ke mulut, maka saya menyampaikan dengan istri untuk berbuka puasa di "Cafe Serasan". Saya juga mengusulkan untuk mengajak tiga keluarga tetangga terdekat---tempat saling curhat dan berkeluh-kesah---yang mana kebetulan satu keluarga besok akan berangkat ke Medan, untuk pulang kampung. Jadi lah kami rombongan sebanyak 18 orang dengan tiga mobil menuju lokasi.
CAFE SERASAN. Memang benar-benar menjadi pilihan 'wisata kuliner' yang cukup unik. Bukan dari makanannya, tapi dari suasananya. Siang sebelumnya, saya sudah mengatur jadwal, tempat dan makanannya. Berhubung makanan berbukanya tidak memiliki banyak pilihan, saya memutuskan untuk menyiapkannya dari luar. Nah, suasana yang saya sebut-sebut tadi adalah suasana makan malam, diatas 'kapal pesiar'---tapi, jangan dibayangkan seperti kapal pesiar mewah bak Titanic yang kondang itu----bermesin 45 PK, berbodi kayu, dan ala kadarnya. Kapal itu diberi nama "Lancang Kuning", dengan harga sewa per setengah jam 200 ratus ribu rupiah. Namun, percayalah, semua keluarga merasa senang, semua amat bergembira, dan yang lebih penting semua menikmati. Suasana kejauhan seperti mesjid Jami' Keraton Pontianak, Jembatan Kapuas, dan Waterfront city di depan Markas Korem 121/Alambhanawannawai, yang bendang lampu-lampunya seperti tergambar dalam rekaman kamera handphone di atas.
Darussalam, Jum'at Terakhir Puasa
September 25, 2008
Pontren Itu Memprihatinkan
SUNGGUH kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.Karena tidak setiap orang memiliki dan diberikan kesempatan seperti ini. Kemaren siang menjelang sore, saya berkesempatan mengikuti kegiatan anjangsana Panitia Ramadhan SMU Muhammadiyah 1 Pontianak yang diketuai oleh sdr. Iswaldi. Pak Mude---demikian panggilan akrab untuk Drs. Ahmad Zaini Kepsek SMU Muhammadiyah itu----telah sejak tiga hari yang lalu mewanti-wanti saya agar ikut dalam rombongan anjangsana tersebut, bersama-sama pula dr.H. Nursyam Ibrahim, M.Kes Kadis Kesehatan Kabupaten Kubu Raya yang sekaligus akan memberikan tausyiahnya.Dalam kesempatan menyampaikan kata sambutannya, Drs. Ahmad Zaini menyempatkan memperkenalkan saya selaku calon legislatif dari Dapil Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya untuk DPRD Propinsi Kalbar.
September 23, 2008
A Gift From Indosat
September 19, 2008
Andaikan Semua Mesjid Ber-AC......
Perjalanan 'spiritual' mingguan kali ini, masih berada di sekitaran Kecamatan Sei. Raya Kabupaten Kubu Raya. Masih juga ditemani oleh Bung Dedy Arfian---calon legislatif DPRD Propinsi dari Daerah Pemilihan Kalbar I meliputi kota Pontianak----yang setia mengingatkan setiap kali Jum'at tiba. "Bang, udah jam sebelas nih. Siap-siap.....", begitu bunyi SMS-nya seminggu sekali.
September 17, 2008
Jahe Hangat Tepian Kapuas
Kali ini perjalanan 'wisata kuliner malam' kami---afdolnya ngopi sambil diskusi panjang---kali ini menemukan suasana lain. "Bagaimana kalau kita menikmati hangatnya jahe merah?", ujar seorang teman, yang kelihatannya sudah amat mahfum bahwa jahe bisa memberikan kehangatan di udara malam terbuka seperti ini. Setuju. Saya kira itulah pengambilan keputusan yang tergolong cepat dan tidak bertele-tele, dan.....tidak diinterupsi!
Tepian Kapuas adalah pilihan yang sangat tepat. Suasananya yang sangat familiar, di sudut kanan dari arah pintu keluar ke bagian terrace Hotel Grand Kartika terlihat aktivitas KM Merawan III yang melayarkan masyarakat dari Pontianak Kota dan Pontianak Utara. Di 'arah pukul sembilan' terlihat lampu-lampu kapal barang yang melempar sauh di tengah sungai Kapuas. Kadang terlihat lalu-lalang "Kapal Bandong Wisata" dimana kita dapat menyaksikan bantaran sungai Kapuas dari tempat keberangkatannya di "Cafe Serasan" menuju ke arah pertigaan sungai Kapuas Besar - Kapuas Kecil - Landak, lalu berputar menuju kawasan tepian kompleks Tugu Khatulistiwa. Sepuluh menit berselang, Minuman Jahe Hangat pun datang, ditemani dengan pisang goreng srikaya dan kacang goreng. Nikmat....
Diskusi pun mengalir lancar dari masalah Pilkada Kota Pontianak, Pencalegan Pemilu 2009, sampai kepada prediksi SOPD pemerintah propinsi Kalbar yang sedang di'timang-timang' oleh gubernur. Yang hadir malam itu, memang beragam. Ada politisi dari berbagai partai, tentulah didominasi oleh PAN, selain PBB dan PPD. Ada juga akademisi, dan Wiraswasta. Tamu-tamu yang hadir---tentunya dengan aktivitas masing-masing---ternyata ada juga pengurus PG, dan di meja lain beberapa petinggi PPP. Ah, hidup ini jika tidak terlalu dibikin rewel dan ruwet, memang layak dinikmati. Ibadah taraweh tuntas, ngalor-ngidulpun retas.....
September 12, 2008
Kali ini, giliran Al-Wustha
Kali Ini, perjalanan 'ibadah rutin' jum'atan dalam rangka pengenalan wilayah kerja dan wilayah garapan sebagai calon legislatif dari Dapil Kalbar II Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya menginjak ke daerah Parit Baru, Kecamatan Sei. Raya. Perjalanan kali ini, memang agak telat. Gara-gara, mau ngisi bahan bakar dulu di SPBU A. Yani Paris II, eh, rupanya SPBU itu 'diistirahatkan' pada jam shalat jum'at. Akhirnya, kami muter lagi ke SPBU Adi Sucipto, barulah ngebut ke arah Sei. Raya. Kami sampai di Mesjid Al-Wustha Kompleks BRU Group sudah sekitar pukul 11.55 wiba, khatib sudah naik mimbar dan sudah menyelesaikan tiga perempat materi khutbahnya. Pas pukul 12 lewat 2 menit, khatib menyelesaikan khutbahnya dan melanjutkannya dengan menjadi imam shalat jum'at.
Ketika akan beranjak pulang tak dinyana seseorang menggamit lengan saya, dan ketika saya menoleh ternyata mantan tetangga ketika saya masih tinggal di rumah mertua dulu. Namanya Yeri, dan saya baru tahu kalau dia sudah bekerja di BRU Group selama belasan tahun. Setelah berbasa-basi, alhamdulillah, dia menjanjikan akan mensosialisasikan saya sebagai calon legislatif dari Partai Amanat Nasional nomer urut satu pada Dapil Kalbar II meliputi Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya. Subhanallah, perjalanan ibadah ini memang baroqah......
A Passion of Coffee
CERITANYA, saya agak tergelitik dengan beberapa teman ngopi yang agak 'protes' dengan rasa kopi yang disajikan di kedai kopi yang beberapa malam selepas taraweh yang kami datangi. "Koq, rasanya tidak seperti yang tempat Anam, ya....", celetuk Mas Herry yang malam itu cuma bercelana pendek dan berkaos putih simple. Sepulang ngopi, saya membongkar-bongkar koleksi majalah saya, dan---alhamdulillah---sebuah majalah unik yang mengupas habis soal kopi, dari asal muasalnya sampai kepada bagaimana menyajikan kopi agar terasa nikmat ditulis dan disajikan lengkap di majalah itu. Judulnya "A Passion of Coffee". Selamat membacanya di Pustaka Saya yang lain. Selamat ngopi, sobat.....
September 07, 2008
Hwaladalah, Kaga' Sahur!
HWALADALAH, bunyi gedoran di pintu kamar dan teriakan mertua menyadarkan diri dari keterlelapan. Sayup-sayup terdengar bunyi adzan shubuh dari Mesjid Al-Hikmah di ujung kompleks Batara I. Astaga! Rupanya saya ketiduran, dan tak lama istri pun dengan sedikit tergesa membuka pintu kamar, dan dengan wajah lemes berkata, "wah, telat sahur kita, bah........"
APA BOLEH buat, gara-gara tadi malam itu iseng-iseng mensetting ulang lagi beberapa postingan dan tata letak, dan juga menyelesaikan settingan blog teman juga. Keterusan karena keasyikan, akhirnya baru kelar sekitar jam 02.00 dini hari. Alih-alih ceritanya pengen meluruskan badan, dan berehat barang sebentar, eh, ndak taunya malah ketiduran.
KEBETULAN lagi, istri saya nemeni anak yang bungsu tidur, malah ikutan terlelap juga, dan baru tersadar sampai ketika mertua saya menggedor pintu kamar anak bungsu tadi. Akhirnya, semua urung makan sahur, cuma anak-anak yang dibujuk-bujuk istri supaya tetap makan, dan katanya, "Nak, Allah tahu kamu 'kan ketiduran. Jadi ndak apa-apa makan sedikit, biar perutnya tidak kosong sekali......".
UNTUNGNYA, malamnya selepas shalat Isya menjelang shalat tarawih sudah sempat berniat puasa untuk besok. Hwaladalah......
September 05, 2008
Pasar Juadah, Yang Hadir Setahun Sekali
Jum'atan di Mesjid Pejuang
Hari sudah menunjukkan waktu pukul 11.33 wiba, ketika tiba di kantornya Bung Dedy Arfian. Minggu lalu, kami sudah janjian untuk sholat jum'at di salah satu mesjid di Kecamatan Sungai Ambawang. Namun, karena waktu yang memang sudah mepet bener, akhirnya kami memutuskan untuk melaksanakan shalat jum'at di Mesjid Pejuang, yang terletak di kompleks Asrama Gatot Subroto di Kecamatan Sei. Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Hujan yang cukup deras, membuat kami harus berlari kecil untuk mencapai mesjid dari tempat parkir. Jemaahnya cukup ramai, walaupun hujan turun sejak lima belas menit lalu. Ini menandakan bahwa sebuah kewajiban bagi umat Islam tidak mampu dipatahkan hanya dengan turunnya hujan saja. Dan, hujan lebat ternyata membuat beberapa bagian mesjid meneteskan tetes-tetes hujan karena atapnya yang sudah bocor, bahkan ada bocor kecil di dalam mesjid, karena angin cukup kencang membuat hujan masuk disela-sela kaki bagian cungkup atap mesjid.
Setelah saya menunaikan shalat sunat 2 rakaat, tak lama kemudian khatib naik mimbar. Khatib kali ini Drs. H. Akhmad Nurdin mengambil tema khotbah tentang "Kewajiban Puasa Bagi Orang Muslim", cukup ringkas, tajam dan tepat sasaran. Sambil menyimak uraian khatib saya sempat melirik beberapa orang jemaah kelihatan memegang selebaran imsakiyah ramadhan dari salah satu pasangan kandidat Bupati Kubu Raya. Dari warna kertasnya, agak mudah ditebak dari partai mana pasangan ini diusung. Namun, amat disayangkan beberapa orang---termasuk anak-anak kecil---hanya melipat-lipat jadwal puasa tadi dan meninggalkannya tergeletak begitu saja selesai shalat jum'at. Ah, mungkin sudah terlalu telat membagikannya pada hari ini, ketika puasa sudah memasuki hari yang kelima. Saya cukup merasa bersyukur, karena telah 'menitipkan' jadwal imsakiyah ramadhan di mesjid ini minggu lalu, 3 hari sebelum puasa dimulai. Mudah-mudahan jadwal itu bermanfaat bagi masyarakat jemaah mesjid ini. Amien.
September 03, 2008
Ngopi,Selepas Taraweh
September 02, 2008
Didukung Keluarga Meraih Yang Terbaik
